Minggu, 26 November 2017

SKB produk Kec. Empang



Assalamualaikum wr.wb

Pada kesempatan hasil kali ini, saya akan memberikan informasi mengenai hasil dari hasil observasi yang saya lakukan bersama teman-teman kelas saya. Kami melakukan observasi Studi Kelayakan Bisnis yang dimana Wilayah Kec. Empang menjadi tempat tujuan kami untuk melakukan observasi Studi Kelayakan Bisnis.            
Pada hari Sabtu, 18 November 2017 kami melakukan observasi di tiga tempat yang berbeda, yang pertama itu Produksi Terasi di Desa Labuhan Bontong. Produk terasi tersebut dikelola oleh UMKM di desa setempat yang berdiri tahun 1994. Dari hasil wawancara yang kami lakukan ada dua cara dalam menangkap udang yang menjadi bahan dasar dari terasi. Cara pertama yaitu menggunakan bagang. Bagang merupakan alat untuk menangkap beberapa hasil laut terutama udang dan cara yang kedua yaitu menggunakan kelambu. Dari kedua cara tersebut yang menghasilkan produk terasi yang paling bagus itu menggunakan kelambu, karena udang tangkapan hasil cara itu hasilnya bisa langsung diproduksi.
UMKM yang kami observasi ini masih melakukan proses produksi nya dengan cara manual. Usaha ini sudah mendapatkan bantuan oleh binaan BPUKD seperti penambahan alat mesin produksi mesin. Namun hasil produksi terasi dari mesin menciptakan cita rasa ters=asi yang pahit. Kendala yang dihadapi dari usaha ini adalah pengadaan bahan dan siasat untuk stok bahan. Kemudian untuk  masalah pemasaran  terasi ini di distribusikan ke pasar-pasar dan sudah sampai ke luar daerah Empang bahkan Sumbawa. Produk terasi ini juga dapat langsung dibeli di tempt pembuatan terasi. Harga dari terasi ini beragam. Untuk yang kemasan kecil dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau oleh masayrakat sekitar Labuhan Bontong dan Dusun lainnya tempat didistribusikannya terasi ini. Harga dari terasi tersebut kisara Rp.5000 – Rp.10.000. Sedangkan untuk yang ukuran besar dibandrol dengan harga 2,5 juta.
Kemudian observasi berikutnya kami lakukan di tempat produksi Garam yang dimana produksi Garam ini satu-satunya yang ada dipulau Sumbawa. Dluas lahan pembuatan garam ini seluas 250 hektar. Proses pembuatan garam dibagi menjadi dua yaitu dengan menggunakan terpal atau giosator yang diberikan oleh pemerintah. Hasil produksi garam dari terpal garamnya halus seperti garam beryodium, sedangkan hasilgaram dengan cara manual itu hasilnya kasar dan kehitaman. Proses pembuatan garam itu dilakukan dengan bertahap. Yang pertama  air laut ditampung hingga kadar airnya mengalami penuaan dengan diagnose terbaik 12-25 derajat. Ketika sudag mengalami penuaan air laut tersebut dipindahkan ke lahan pembuatan yang telah disediakan dan kemudian air tersebut dibiar mengkristalisasi. Saat air laut sudah mengkristal dan mengeras baru kemudian hasil garam itu di kumpulkan petani dan mengepulnya di balai penanmpungan atau orang sana menyebutnya kelontang. Herga garam perkarung  yang beratnya mencapai 50kg sebesar RP. 75.000. kemudian kendala yang yang dihadapi oleh usaha ini adalah ketika cuaca yang tidak mendukung dapat mengganggu proses produksi.
Dan kemudian observasi terkhir yang kami lakukan itu di tempat pembuatan Kerupuk Atum yang berada di wilayah Empang Bawah Kec.Empang. bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan krupuk atum ini yaitu ikan yang memiliki darah yang sedikit seperti ikan Tenggiri dicampur dengan tepung tapioca. Dalam pemasarannya, krupuk atum sudah tersebar di berbagai macam supermarket dan keluar daerah Sumbawa. Harga dari satu bungkus kerupuk atum itu senilai Rp.5000 sampai Rp.10.000.

Demikian informasi mengenai hasil observasi yang saya lakukan brsama teman-teman saya. Semoga bisa menjadi manfaat bagi kita semua

Wassalamualaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RENTIST ( Aplikasi yang mempermudah Usaha Rental )

Assalamualaikum. Ngapain beli ? Rental Aja!! Mungkin dari para pembaca belum pernah mendengar kata-kata di atas. Kata-kata atau sloga...