Assalamualaikum wr.wb
Pada
kesempatan hasil kali ini, saya akan memberikan informasi mengenai hasil dari
hasil observasi yang saya lakukan bersama teman-teman kelas saya. Kami
melakukan observasi Studi Kelayakan Bisnis yang dimana Wilayah Kec. Empang menjadi
tempat tujuan kami untuk melakukan observasi Studi Kelayakan Bisnis.
Pada hari
Sabtu, 18 November 2017 kami melakukan observasi di tiga tempat yang berbeda,
yang pertama itu Produksi Terasi di Desa Labuhan Bontong. Produk terasi
tersebut dikelola oleh UMKM di desa setempat yang berdiri tahun 1994. Dari
hasil wawancara yang kami lakukan ada dua cara dalam menangkap udang yang
menjadi bahan dasar dari terasi. Cara pertama yaitu menggunakan bagang. Bagang
merupakan alat untuk menangkap beberapa hasil laut terutama udang dan cara yang
kedua yaitu menggunakan kelambu. Dari kedua cara tersebut yang menghasilkan
produk terasi yang paling bagus itu menggunakan kelambu, karena udang tangkapan
hasil cara itu hasilnya bisa langsung diproduksi.
UMKM yang
kami observasi ini masih melakukan proses produksi nya dengan cara manual.
Usaha ini sudah mendapatkan bantuan oleh binaan BPUKD seperti penambahan alat
mesin produksi mesin. Namun hasil produksi terasi dari mesin menciptakan cita
rasa ters=asi yang pahit. Kendala yang dihadapi dari usaha ini adalah pengadaan
bahan dan siasat untuk stok bahan. Kemudian untuk masalah pemasaran terasi ini di distribusikan ke pasar-pasar
dan sudah sampai ke luar daerah Empang bahkan Sumbawa. Produk terasi ini juga
dapat langsung dibeli di tempt pembuatan terasi. Harga dari terasi ini beragam.
Untuk yang kemasan kecil dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau oleh
masayrakat sekitar Labuhan Bontong dan Dusun lainnya tempat didistribusikannya
terasi ini. Harga dari terasi tersebut kisara Rp.5000 – Rp.10.000. Sedangkan
untuk yang ukuran besar dibandrol dengan harga 2,5 juta.
Kemudian
observasi berikutnya kami lakukan di tempat produksi Garam yang dimana produksi
Garam ini satu-satunya yang ada dipulau Sumbawa. Dluas lahan pembuatan garam
ini seluas 250 hektar. Proses pembuatan garam dibagi menjadi dua yaitu dengan
menggunakan terpal atau giosator yang diberikan oleh pemerintah. Hasil produksi
garam dari terpal garamnya halus seperti garam beryodium, sedangkan hasilgaram
dengan cara manual itu hasilnya kasar dan kehitaman. Proses pembuatan garam itu
dilakukan dengan bertahap. Yang pertama
air laut ditampung hingga kadar airnya mengalami penuaan dengan diagnose
terbaik 12-25 derajat. Ketika sudag mengalami penuaan air laut tersebut dipindahkan
ke lahan pembuatan yang telah disediakan dan kemudian air tersebut dibiar
mengkristalisasi. Saat air laut sudah mengkristal dan mengeras baru kemudian
hasil garam itu di kumpulkan petani dan mengepulnya di balai penanmpungan atau
orang sana menyebutnya kelontang. Herga garam perkarung yang beratnya mencapai 50kg sebesar RP.
75.000. kemudian kendala yang yang dihadapi oleh usaha ini adalah ketika cuaca
yang tidak mendukung dapat mengganggu proses produksi.
Dan
kemudian observasi terkhir yang kami lakukan itu di tempat pembuatan Kerupuk
Atum yang berada di wilayah Empang Bawah Kec.Empang. bahan dasar yang digunakan
dalam pembuatan krupuk atum ini yaitu ikan yang memiliki darah yang sedikit
seperti ikan Tenggiri dicampur dengan tepung tapioca. Dalam pemasarannya,
krupuk atum sudah tersebar di berbagai macam supermarket dan keluar daerah
Sumbawa. Harga dari satu bungkus kerupuk atum itu senilai Rp.5000 sampai
Rp.10.000.
Demikian
informasi mengenai hasil observasi yang saya lakukan brsama teman-teman saya.
Semoga bisa menjadi manfaat bagi kita semua
Wassalamualaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar